Pembela Malam
October 7th, 2008 by anggaadityaatmadilagaSaat hujan deras, aku terlindungi oleh plastik besar yang menutup badanku, sampai setengah lutut lebih tepatnya. Kepalaku terlindungi oleh helm setengah kepala, yang kucuri dari salah satu motor di kampusku, dan kucat ulang dengan warna putih – hijau, agar terlihat seperti barang suci. Berhenti aku di pom bensin, mengeluarkan kain dari bagasi vespaku, untuk mengendurkan kuncian tangki bensin, dengan tang aku berhasil membukanya, kuminta tangki itu diisi tiga liter, maka aku menuangkan oli, baru kukunci kembali dengan bantuan tang dan lap, harus benar, atau bensinnya akan kocar – kacir karna guncangan perjalanan. Ini yang menyebabkan temanku enggan membeli vespa, terlihat ribet menurut mereka.
Plastik yang menutup hampir seluruh badanku, aku buat dari trash bag, tinggal aku potong saja bagian atas dan kedua sisinya, dipotong setengah lingkaran untuk lubang tangan dan kepalaku.Ada yang menyebutku Batman karna hal ini, sama sama berjubah hitam dan terlihat bersayap lebar, berarti harusnya ada Robin didekatku ?
Robin kecil, dibonceng vespa biru keluaran 73, bajunya tidak warna – warni, ia cukup bijak untuk terlihat gaya. Pemboncengnya meringis kesakitan, wajahnya ditusuk hujan, meskipun kecepatan berkendaraannya sedang. Mereka menjelajahi kota, dimalam hari, tanpa lampu depan, rem setengah pakem, dan kesigapan gerakan tangan sebagai penanda akan berbelok.
Robin ini aku culik dari sebuah villa berdarah, ia terlihat pasrah, ia menjadi korban janjiku untuk membela keadilan, janji untuk mengantar mereka yang membutuhkan tumpangan tapi seadanya.
Robin..
02270094349, aku menelponnya malam ini.
Entah apa yang ingin aku bicarakan, hanya mengatakan kangen..
Padahal bukan hanya itu yang ingin aku sampaikan..
Aku ingin mengajaknya kembali membela kebenaran,
Dan sebelum itu aku harus berterima kasih padanya,
Karna ia.. semesta mengenalku..
Untuk Sahabatku dan Semesta Kita
Angga Aditya Atmadilaga, 5 Oktober 2008