Archive for October, 2007

Transaksi

Saturday, October 13th, 2007

Transaksi

Selepas memangkas rumput, pria tua itu berjalan menuju gubuknya..tampak 2 pria telah menunggunya,tersenyum manis dengan jas hitam dan sebuah koper kokoh..

" Lima tahun saya memohon, dan mungkin 5 tahun lagi saya akan tetap memohon.."

Pria tua hanya menggeleng kepala..lalu menawari mereka ubi hangat…

Menatap kedua pria itu, lalu bercerita tentang masa – masa saat ia menjadi Pasukan Garuda yang dikirim ke Mesir…Pasukan perdamaian Indonesia untuk Dunia..

"Hidup anda cukup dengan uang pensiun yang anda dapat??" Mencoba memotong cerita..

"Ya, cukuplah uang itu bagi kami.."

Melihat sekeliling,,lalu mengeluarkan rokok dari jasnya.. "Pantas,,, tidak ada televisi disini !!,,apa anda tidak tahu bahwa masa ini masa dimana anda boleh beristeri banyak,,,"

Menuangkan air tebu, dan memotong ubi hangat.."Bila saya beristeri banyak,,kapan saya punya waktu untuk "bersetubuh" dengan bumi ini.."

"Berilah kami kesempatan Pak.. memberikan sedikit rasa surga kepada anda..wajarlah anda menikmati hal itu di usia ini, gantilah pakaian anda dengan apa yang kami kenakan…" menjilat pantat rokoknya, sebelum ia membakarnya…

"Jangan tanya padaku,bagaimana keinginanku menjual kebun ini.."

"Tanyalah pada para pencuri itu…mau mencuri dimana lagi kalau tanah ini aku jual pada kalian!!"

                                  Angga Aditya Atmadilaga.11.10.2007

Pertempuran Para Petinggi

Saturday, October 13th, 2007

Pertempuran Para Petinggi

Mengetuk meja ukir dengan keempat jarinya, berirama tanpa kesengajaan.. Sebuah peta besar digelar, tergambarkan jalur sebuah perjalanan,,Kokoh perisai disekelilingnya,, Berkumpul 100 patih,merancang pemancangan pancang dari seorang MahaPatih.. Mereka terbalut hangat di balik jubah kerajaan, Jubah Hitam sepanjang mata kaki dengan jahitan yang tercelup darah merak jantan.. Terpusat pada satu titik api unggun..

"Pancang dalam diri hamba, hamba kekang selama pencariannya..Tiba sudah waktunya penanaman Pancang.."

Tubuh yang tergantung, tertembus beribu – ribu amunisi,,Darahnya masih saja belum kering,tercampur dengan pasir disekelilingnya..Penghormatan terakhir diberikan kepadanya, sebelum melangkah menentukan arah … Jendral tegak berdiri sebagai inti, memberikan tatapan atas penghargaan kesetiaan 2000 prajuritnya.. mengacungkan moncong senjata kearah langit..

" Kelak musuh kita akan sepertinya..tergantung dan berlubang.."

Membuka satu kartunya dari 4 kartu yang ada dihadapannya, Tersenyum dan menyatakan kemenangan atas permainannya.. Tepukan tangan menyambutnya.. Bos Besar berdiri,, lalu pergi meninggalkan ruangan..langkahnya tetap diiringi.. oleh musik langkah sepatu kulit maupun beratus ratus pengawalnya..Menghalangi sinar dengan kacamata hitamnya,menggelapkan sedikit hatinya..

"Saatnya bergerak untuk menyerang"

Mencoret dinding lebar disebelahnya, dengan setengah kapur ia menggambarkan strategi,, Seorang Kapten tua yang pantas disebut keladi… membakar spiritual ke 52 anak buahnya..mencoba meyakinkan bahwa mereka akan menang.. dengan parang berkarat di kedua lengannya,dan sebilah pisau yang terselip di liang sepatunya..

"Biar parang ini yang mengantarkan kita.."

Mahapatih terjaga di tengah Utara, menggenggam tombak Jenangpati.. Diatas kudanya ia memimpin penanaman pancang.. 100 patih mengangkat sumpah, "kemenangan menyembah bumi, langkah tertata mati".. 5000 pasukan mengusung pedang..tertunduk mengikut patih..

Jendral terjaga di tengah Selatan, mempertaruhkan 4 bintang..dan kehormatan terakhirnya…Mencium satu peluru yang pernah melubangi tangannya, sebagai ritual awal peperangan.. Dua pilihan yang dianut prajuritnya, "melewati atau dilewati."

Bos Besar terjaga di tengah Timur, berharap ia kembali memenangkan permainan…Permainan tanpa kartu, dan tanpa dua buah dadu.. permainan yang menyebabkan ia melepas kacamatanya, untuk melihat siapa musuh sesungguhnya..

900 pengawal dan 2000 senjata di belakangnya..

Kapten terjaga di tengah Barat, terlihat serpihan kapur putih ditangan kanannya.. mengajak anak buahnya untuk tertawa..hanya tersenyum mereka,enggan untuk tertawa,, Biar parang mereka yang tertawa, setelah ini…

..Begitu luas tanpa sekat, Wilayah luhur yang akan menjadi wadah peraduan para Tokoh..

Beradu keyakinan, dan perbedaan jalur waktu..

Terdiam seorang perempuan..

Di tengah bumi ia menunduk..

…Dengan keanggunannya…

Angga Aditya Atmadilaga.11.10.2007

Angga = Kambing

Saturday, October 13th, 2007

Aku merasakan bagaimana menjadi seekor kambing yang mencium air seninya sendiri..

                                            Angga Aditya Atmadilaga dan Dia

                                                                           13.10.2007

Janji Untuk Sebuah Jawaban

Saturday, October 13th, 2007

Seorang ibu bertanya padaku…

"Bila anda menjadi saya, maukah anda menjual aqidah anda???"

Jawabanku saat ini akan menjadi janjiku di Waktu selanjutnya….

                                Angga Aditya Atmadilaga 11.10.2007

subjek - objek

Sunday, October 7th, 2007

Entahlah,,,

Apa aku menyukai kata – katanya, atau siapa yang berkata???

Angga Aditya Atmadilaga 5 oktober 2007

17 Kecerdasan

Sunday, October 7th, 2007

1990..Ibu dan Ayah baginya..Menginjakan langkahnya kepada bumi..memadatkan tanah..dan berucap mantra “ cepatlah tumbuh, dan bayangilah tanah ini”..

1991..Mengambil jarak..ia berlari dan meloncatinya..setiap pagi ia melakukan hal yang sama..meloncati..sampai akhirnya ia menyerah.. “habis sudah waktuku untuk meloncatinya”.. terlalu tinggi ia untuk ku loncati..

1992.. Kacang kering, dibuang asal, berserakan, lalu tersenyumlah pria itu.. Pria yang bersandar telanjang dada,dengan celana hitam sepanjang lutut.. mengipaskan tangannya, kepanasan.. ia merogoh tas kecilnya, mencari roti pemberian ibunya..lalu membagikannya untuk perutnya dan burung – burung merpati putih disekitarnya..lelah katanya..sejenak ia tertidur…

1993..Tertunduk dan menangis..anak itu enggan menunjukan mukanya, malu bila teman – temannya melihatnya menangis..ia hanya memainkan tumbuhan tumbuhan kacang dibalik kesedihannya..mencabutinya, mengguncangnya.. sampai Ibunya datang menjemputnya..

1994.. Senang sekali ia berada di sana.. menggambar merpati – merpati putih..dan memberi mereka nama satu persatu..Kajiraga, Cangkang, Lingkar… berharap di hari kedepan pria tua itu bisa mengenalinya.. “ beruntunglah engkau hidup di alam ini” katanya…

1995..Suara itu bergerak seiring tumbuhnya akar – akar bumi.. Sedikit alunan suling bambu, membuat keduanya tersenyum.. mereka menggelar tikar..bersantap tawa disana.. dan menggambarkan cintanya di mana mereka berlindung di atas bayangan dan di balik kepakan.

1996..Sumpah kasar ia keluarkan, menunjuk langit dengan acungan ranting.. terlalu banyak, kotoran itu ada di pundaknya.. serasa menambah beban terhadap dirinya.. terlalu bersih dirinya untuk menerima kotoran itu.. unggas putih hanya berlalu..mereka tidak mengerti apa yang diucapkan pria bertubuh jangkung itu…

1997..Seperti judi kecil, membayar kekalahan dengan segenggam gundu..tapi tetap saja mereka tertawa, mengumpulkan gundu di pusat lingkaran,dan berjuang mengeluarkannya kembali..”masih kecil telah bermain dengan strategi”..wajarlah bila ada kecurangan.. perselisihan menyebabkan sebagian gundu disembunyikan di lubang pancang tempatnya bermain…

1998..Menancapkan sebatang kayu ke tanah bumi.. kayu hitam dengan goresan nama…menarik hewan gembalanya dengan tali tambang kokoh,, dan mengikatkannya..memberikan sekarung rumput, dilahap habis saat gembala itu bermimpi… Bermimpi untuk kedua kalinya tentang jawaban siapa ibunya.. Sementara pemakan rumput itu riang ditemani merpati putih.

1999..Menurunkan bebannya, perempuan itu akhirnya menyerah.. menghitung kembali laba, tapi tetap tak terhitung..labanya kosong.. ada kesadaran dalam dirinya “ mengapa ia harus berjualan calengan – calengan keramik ini” ia sendiri bahkan tidak pernah menabung di calengan buatannya.. calengan cokelat pasir dengan bentuk keran, botol, televisi.. memandang kearah langit, ia lalu berkata “ haruskah aku membuat bentuk daun dan ranting ”…

2000..Mereka berlari – lari, menyerang dari arah yang sama..berusaha menangkap bunglon kecil yang akhirnya masuk ke sebuah lubang pohon.. Mereka berpikir panjang untuk mengeluarkan bunglon dari lubang itu.. mereka menusukan bambu kuning yang mereka bawa ke dasar lubang …hening…hanya terdengar suara gesekan kaca. ” tidak seperti ular” katanya ….memberanikan diri memasukan tangannya,menyentuh dasar,dan merasakan benda – benda licin,keras,bundar,dan sedikit tergores, dengan ukuran yang kecil…

2001..Dua anak perempuan berdiri menunggu..dan menunjuk “ambil yang itu..disebelah kiri”..dengan hati –hati seorang yang telah berada di atas dahan memetiknya.. “lihat..ada yang baru di sarang ini” … “kasih nama siapa ya??” ..

2002..Berisik sekali..mungkin karna ada pembangunan disekitar sini.. tiang – tiang besi, rangkaian instalasi listik, benteng beton, musik lembaran seng.. “tempat apa yang ingin mereka buat???” Mungkin tempat untuk melepas penat..dan berbagi udara..

2003..Bunglon yang aneh…..ia diam didahan hijau coklat kering, tapi kenapa warna tubuhnya merah??..dianggap dewalah ia disana..tidak dipuja, tapi hanya dilindungi untuk tidak diambil dijadikan pajangan air keras..

2004..Daun dan Ranting, nama sebuahToko keramik, yang akhirnya selesai dibangun sejak 2 tahun yang lalu.. ramai memang, setiap waktu anak - anak kecil berebut membeli keramik…keramik sebagai calengan tentunya, yang diisi lembaran uang kertas hasil kerja keras ayahnya…

2005..Mereka sekeluarga selalu tidur disini..memang tanpa atap,hanya selembar kain yang yang digantung dan diikatkan pada kayu hitam, kayu bertuliskan nama dengan goresan – goresan tidak teratur,,dan terdapat bekas ikatan tambang..”mengapa mereka tidur disini” Ingin berbagi udara sepertinya..

2006..”banyak ya merpati putihnya”.. itu Kajiraga, ia ada di ujung ranting tertinggi, dan itu lingkar, selalu mengunjungi pohon pohon lain, tapi tetap tinggal di pohon ini..dan itu Cangkang, selalu mengitari pohon ini….anak anak itu terdiam dan menatap heran..”kok,kakek tau???”

2007.. mengingat mantra, serta menjaga kepercayaan..

Maka Hidup dan Tumbuhlah…

Untuk Ranger Kuning dan Waktu dimana ia harus mempertahankan Kepercayaan .

Angga Aditya Atmadilaga.2007 .