IKATJIWA
Monday, November 12th, 2007IKATJIWA
Disatu titik sebuah padang rumput terlihat jelas sebuah tempurung pelindung, Cukup besar dan terdiam murung. Daun dan rumput bergoyang, mengundang angin dan terik untuk berpesta. Mereka berpesta karna esok musim penghujan akan tiba, pesta perpisahan sesaat yang mereka lakukan memang telah menjadi tradisi. Perasaan haru tampak pada garis garis terik yang harus mengucapkan perpisahan pada rumput dan beberapa daun disekelilingnya. Lain dengan sang angin yang begitu gembira karna seluruh keluarga besarnya akan hadir di musim ini.
Beberapa daun bernyanyi, angin menari dan terik tersenyum.. lalu kemana para rumput.. Mereka ternyata berbincang dengan sang tempurung. Perlahan ia muncul dari dalam tempurungnya. Tidak ada senyum yang ia pancarkan, hanya tatapan kosong dan langkah pergi meninggalkan mereka yang berpesta.
Langkah yang lamban, bukan karna beban yang ia tanggung.tapi perasaan kosong yang ia rasakan.. Melihat sesaat kearah langit, berharap terlihat bintang yang akan membimbingnya..
Terik terlalu lama berdiam, sehingga kering jalur yang ia langkahi..
Sesekali Tempurung beristirahat, memasukan badannya dan berusaha mengumpulkan kembali impiannya.. lalu bergerak dan melangkah kembali..
………..
Ada titik lain dihadapannya, sebuah cekungan yang membuat ia ingin menghampirinya..
Disisi cekungan ia terpaku, terlihat genangan air dangkal separuh tubuhnya..
Sedikit tersenyum sang tempurung, melihat sekawanan ikan kecil yang bergerak lincah seakan genangan itu terbentuk tanpa sekat.
Kelincahan mereka membuat sang tempurung tertawa, serasa ingin lepas tempurung itu dari tubuhnya, Sedikit bertanya ia mengenai apa yang dilakukan mereka..
“Menikmati Hidup “ ..
Ternyata ikan – ikan kecil itu tidak tahu bahwa esok akan datang musim penghujan yang akan kembali menghidupi kehidupan mereka..
“Hari ini aku tertawa, maka aku akan menemani kalian menunggu air langit..” berucap yakin sang tempurung itu..
“Kami Alurumpun..panggillah kami alurumpun..tidak ada nama satuan yang kami punya” sambil tersenyum mereka berucap..
Malam itu mereka bercakap, menunggu air langit yang semoga datang sebelum sekat genangan menjadi begitu sempit..Dan bintang langit tertutup, sembunyi dibalik kapas langit, memeras tubuh sang kapas, butiran pertama turun tepat mengenai punggung sang tempurung.. Tibalah waktunya Air Langit datang…
Menuruni cekungan.. mereka merayakan meluasnya sekat..bergerak diluar batas, mencipta arus..mengejek terik..dan tertawa lepas..
Malam itu juga, janji Sang tempurung lepas, ia kembali berjalan menuju arah yang ditunjukan bintang langit dibalik kapas tebal yang menutupinya…
……….
Harum tanah basah, membungkus penciumannya, bukan masalah baginya karna ia menyukainya.. dari arah yang berlawanan ia melihat seekor siput, berjalan lambat seperti jalannya sang tempurung.. berpapasan.. dan saling tersenyum akrab..hanya itu yang mereka lakukan..
Beberapa jarak setelahnya, ia melihat sosok kuning, tertunduk dan membungkuk, Sang tempurung berjalan mendekati, terlihat sebuah topeng kuning dengan kaca hitam dibagian matanya dan hiasan taring macan di sisi ujung tiap kaca itu, tergeletak disebelah kakinya.. seorang perempuan kecil yang membungkuk menyembunyikan wajahnya, berpakaian kuning dengan gambar bidang ketupat simetris putih pada bagian dadanya.. di kedua pipinya mengalir beberapa tetes air, bukan air langit tapi..seperti air dengan rasa garam.. di sebelah kakinya terlihat jelas jejak lendir..
Perlahan ia berhenti menangis, wajahnya mulai terangkat dan ia melirik lembut menatap sang Tempurung.. kembali sang tempurung melihat senyum… ada perasaan khusus yang ia rasakan, perasaan yang baru kali ini dirasakan sang tempurung…
Ia lupa akan apa yang membuatnya menangis…Mengangkat sang tempurung… Belaian, Sentuhan, Ucapan, Berujung pada satu kata “toyib”…
Inilah yang ia cari..Sang tempurung yang mencari “IkatJiwa”.. yang ia temukan pada sosok yang menyebutnya Toyib, sosok berponi dengan sehelai midori yang ia ikatkan pada pergelangan tangannya…
Angga Aditya Atmadilaga
13 November 2007