Membantai Diri
Friday, December 28th, 2007"kamu pulang,,kamu kalah"
sebuah pepatah yang dipegang teguh oleh kaumnya, dijadikannya sebagai mantra hidupnya…
langkahnya terhenti pada sebuah jalan setapak,kering sedikit berpasir.. ia meraba tanahnya, menciumnya menandai daerah pijakannya.. ia tahu, mangsanya berada tak jauh dari depan hidungnya..
Sedikit memicingkan mata, ia dapat merasakan seberapa besar kekuatan mangsanya,, cukup besar untuk dapat ditaklukan dalam satu pertempuran.. alas kakinya ia lepas, perasa getaran dari apa yang dimangsanya..
Melanjutkan langkah, mengores bumi, sebagai pertanda bagi para pengikut dibelakangnya.. Angin berhembus melawan wajahnya, membawa aroma mangsanya sebagai ingatan korban buruan…
Kakeknya dulu bercerita, " hancurkan matanya, dalam matanya terekam jelas siapa yang memangsanya..atau kerabatnyalah yang akan memburumu…"
Untuk itu, Sebongkah batu bulat telah ia genggam erat… tiga tali ikat lehernya, ia longgarkan..ia tahu,sulitnya bernafas bila bertempur dengannya….
Rumput - rumput mengejek langkahnya.. terlalu lemah bagi mereka untuk bertempur dengan sang buruan..
Babi - babi didepannya bersetubuh, tak peduli dengan apa yang ia buru..
lewat ibu jarinya ia merasakannya..
Buruannya telah berdiri menunggunya..Menunggu dengan desah kakinya..
Langkahnya meminta berhenti, genggamannya meminta terbuka,
tubuhnya meminta tertunduk,
Didepan jiwanya.. Sosok besar telah menunggu, seratus langkah didepannya maka beradulah mereka, saling memancangkan senjata… mengorbankan tubuh, merobohkan tahta…
delapan langkah pertempuran menghancurkan rusuknya… setengah sadarnya, hilang begitu saja tertelan amukan dari amarahnya.. jari jarinya hampir putus, tertekan kepalan tangannya.. kedua kakinya menyerah menahan beban.. ia tertunduk.. mengangkat kedua tangannya dan berteriak
" Aku menyerah melawan Aku "
Angga Aditya Atmadilaga 28.12.2007