Archive for February, 2008

Cantik Saat Mendampingi

Friday, February 22nd, 2008

Memang ada sebuah kecantikan pada proses mendampingi.

                        Angga Aditya Atmadilaga, 23 Februari 2008

Kesadaran Karya

Friday, February 22nd, 2008

Ada sebuah kesadaran bahwa, Kebesaran Karyaku terletak dari siapa yang mendampingiku, bukan siapa yang ada pada karyaku..

                 Angga Aditya Atmadilaga, 23 Februari 2008

Karya Terbesar

Friday, February 22nd, 2008

Karya Terbesarku ada pada Rengganangga Atmawilagaku !!! Ku yakinkan Itu..

                    Angga Aditya Atmadilaga, 23 Februari 2008

Bagi Peka

Friday, February 22nd, 2008

Mulai hari ini aku akan belajar membagi sebuah kepekaan, tapi tidak akan menghilangkannya.. Karna itulah yang membuat Aku dan Karyaku Hidup…

                            Angga Aditya Atmadilaga, 23 Februari 2008

Bodoh yang Pintar

Friday, February 22nd, 2008

Belajarlah dari Orang bodoh, Yang dirindui Kerelaannya….

                       Angga Aditya Atmadilaga, 23 Februari 2008

Reinkarnasi Basi

Friday, February 22nd, 2008

Reinkarnasi suatu masalah yang terus berulang…

Berulang.. berulang.. tapi tak bertulang.. Hingga aku sulit MEREMUKANNYA!!

                        Angga Aditya Atmadilaga, 23 Februari 2008

Kekalahan Ego

Friday, February 22nd, 2008

Dia masih sulit menuangkan tinta penanya, diatas kertas yang telah ia siapkan di meja kerjanya, egonya mengalahkan rasa rindu terhadap perempuannya.

“Jangan aku yang memulai.” Pikirnya.

Ia meneguk segelas kopi hitam, lidahnya membasahi bibirnya.

Telah lama mereka berjauhan, Perempuannya mengikuti jejak ayahnya, melangkahkan dirinya di kota Dantas, sebelah utara Gunung Taraka, sedangkan ia berladang di tanah kakeknya, letak yang berlawanan dengan letak berdiam perempuannya.

Ia berjanji atas nama seorang pria, ia tak ingin menulis surat sebelum ia menerima kabar terlebih dahulu dari perempuannya. Rasa rindunya memang telah memuncak tapi angkuhnya memenangkan segalanya. Ia sangat mencintai perempuannya, memuliakannya, memujinya, tapi tetap dibawah egonya.

Ia hanya seorang lelaki yang tak ingin kalah atas rasa rindu akan perempuannnya, Telah lama ia menunggu kabar itu, Kabar yang biasa datang tiga hari sekali, yang selalu dibawakan Pak Kasim, dengan motor orangenya. Sebagai rasa terima kasih, biasanya Pak Kasim diberikan Ubi hasil meladangnya.

Terakhir kali ia menerima suratnya, ialah saat ia melihat ayamnya bertelur, hingga akhirnya telur itu menetas, dan sekarang entah mana hasil dari penetasannya itu??

Tak pernah ia memulai untuk menanyakan sebuah kabar pada perempuannya, Hingga pada lamanya waktu akhirnya ia menyadari ada seorang bocah disebelahnya.

“Permisi, paman..?”

“Silakan.nak”
“Aku baru melihatmu saat ini, Apa kau baru datang di desa ini??”

“Iya paman, aku baru dua hari ada di sini.”

“Dengan siapa kau kesini?”

“Dengan Ibu dan Ayahku.”

Dibelakang anak itu, terlihat sepasang sosok yang berjalan beriringan, mendekat dan tersenyum lembut terhadapnya.

“Mari paman, aku pergi dulu, aku tak mau didahului ibu dan Ayahku”

“Silakan nak, hati – hati ya..”

Selanjutnya ia hanya terdiam…
Kabar itu akhirnya sampai, Lewat tepat dihadapannya..
Tanpa memalui pena, kertas, dan Pak Kasim.
Tapi langsung..
Tersenyum ke Arahnya…

Angga Aditya Atmadilaga, 10 Februari 2008

Mereka Guruku

Friday, February 22nd, 2008

Hai wera, Apa kabarmu? Yang telah mengajariku banyak hal mengenai sebuah hubungan. Hai Ayah, Papa,Tante Apa kabar kalian ? Yang memperkenalkanku atas sebuah sikap yang tak ingin aku sentuh. Hai Ibu ? Engkau mengajariku banyak hal mengenai apa arti dari Suatu Keluarga.

                  

                       Angga Aditya Atmadilaga, 9 Februari 2008

Teriak Halus

Friday, February 22nd, 2008

Bila ada kata yang lebih halus dari kata “Cemburu”,

maka akan kuteriakan kata itu…

                        Angga Aditya Atmadilaga, 9 Februari 2008

Pujian Pertaruhan

Friday, February 22nd, 2008

Sore ini ibuku memujiku..

Sore ini pula aku mempertaruhkan namaku..

                        Angga Aditya Atmadilaga, 9 Februari 2008