Archive for April, 2008

Cinta atau Benci

Sunday, April 27th, 2008

Aku bosan mendengar ceritanya, mengenai perjalanannya membakar kota ini, berseru – seru “ Bakar! Bakar! Bakar!”, Seusai itu ia menyanyanyikan lagu kebangsaannya, ia dan satu pakaiannya, hanya itu hartanya saat itu, tak ada yang bisa ia bawa. Hanya semangat untuk mengajak orang – orang membakar segala yang mereka miliki.

Hampir tiap malam ia membangunkanku, disiapkannya segelas kopi pahit untukku, dikecilkannya bunyi radio, ia redupkan lampu kamar, hanya lampu meja yang sengaja ia terangkan, seperti suasana interogasi. Sepiring singkong goreng ia letakan dihadapanku, agar aku tak punya alasan untuk pergi karna lapar.

Memang, selalu ada yang baru pada setiap ceritanya, meski ia mengusung tema yang sama, Aku merasa lebih tua darinya,karna ia lebih bersemangat bercerita dibanding aku, Agak malu juga aku karna itu, tapi sudahlah pemikiranku masih mencerminkan bahwa aku masih muda.

Aku bisa saja menolaknya untuk menceritakan apa yang menyemangatinya, tapi aku menghargai rasa cintanya, atau mungkin benci ! tapi kuyakin itu bukan hal biasa. Rasa itulah yang akhirnya membuat ia tetap memuliakan apa yang dirasanya, seperi diriku saat aku memuliakan perempuanku.

                            Angga Aditya Atmadilaga, 25 April 2008

Mengalahkan Kecerdasan

Sunday, April 27th, 2008

Pukulannya terlalu lemah untuk memojokanku, aku mengincar dagunya, Sepertinya renyah untuk aku tumbangkan, Tapi ternyata ia berhasil memukulku terlebih dahulu..

Mundur sedikit, untuk waktu bernapasku..

Kuda – kudanya tidak terpancang tepat, ia labil dengan kesempatannya memukulku.

Kembali mendatangiku, dan mengarahkan tinjunya, mengenai kepercayaanku, aku kembali mundur dan menoleh kearah sahabatku, meminta senyum agar aku dapat melawannya..

Sedikit terpojok, tapi saat ini aku belum bisa melawannya. Masih harus ku berpikir atas resiko setelah aku memukulnya, ia makin menjadi – jadi dengan serangannya, agak brutal, tidak terarah,.

“ Kasian dia, kupikir ia akan kelelahan dengan serangan seperti itu “.

Kalau boleh aku meminta, aku ingin melawan pelindungnya saja, aku tak ingin melawan dirinya, Dirinya sangat rapuh untuk kujatuhkan, aku tau banyak akan kelemahannya.

Kelebihannya? Entahlah, kupikir telah habis kelebihannya, habis dimakan kelengahannya.

Aku meminta pelindungnya, aku meminta penjaganya, aku meminta pemujanya, biar ku lawan mereka tapi tidak melawan dirinya. Biar kulawan dirinya dengan sikap mengalahku,

SEKARANG !! Berikan aku pelindungmu ! Kunikmati menghajarnya !

Jangan paksa aku menghajarmu, kecuali kau ubah kelaminmu !

                                               Angga Aditya Atmadilaga, 25 April  2008

Aku dan Mereka

Sunday, April 27th, 2008

Kasihan, perempuan – perempuan itu,

Mereka datang terlambat, atau aku yang telat menemukannya…

                         Angga Aditya Atmadilaga, 23 April 2008

Kesamaan Sebuah Kemenangan

Sunday, April 27th, 2008

Tidak mungkin aku membiarkan diriku kalah!

Tidak masuk akal pula, bila aku memintamu mengalah!

Kita sama – sama menang untuk alasan yang berbeda.

                            Angga Aditya Atmadilaga, 22 April 2008

Letak Suatu Kemenangan

Sunday, April 27th, 2008

Selalu,,,

Ada Hasrat  yang mengalahkan Logika.

Lalu, siapakah yang akan menjadi arang ?

Siapapun itu,

Kupikir..

Tidak ada kekalahan didunia ini..

Hanya perbedaan besar kemenangan.

                                                

                                 Angga Aditya Atmadilaga, 22 April  2008

Kabar Pandang

Sunday, April 27th, 2008

Adakah sebuah kabar yang dibawa Linta Sangka ?

Mengenai dirinya atas pandangnya terhadapku ?

                          Angga Aditya Atmadilaga, 22 April 2008

Untuknya Yang Mendengar Impianku.

Sunday, April 27th, 2008

Air dalam cangkirku masih terlalu panas untuk ku minum dalam sekali tarikan nafas, Tiap suap nasi yang kumakan, menandakan langkah kesempatan hidup. Ada suaranya dibelakangku, nadanya, dan cara ia berhenti berucap,. Terpisah oleh dua sekat, tapi dengan jelas aku tahu ia tertawa.

Imajinasiku berhasil menangkap tingkah lakunya, senyumnya, raut wajahnya, serta pandangan orang – orang yang menyimak caranya berbicara, Aku yakin mereka mengaguminya, seperti aku saat ini, meski ada pada wilayah yang berbeda. Dia yang berhadapan dengan muka – muka temannya, dan aku yang berhadapan dengan hidangan hati, dan tembok besar tepat dihadapanku.

Aku ingat saat ia bercerita dihadapanku, disebuah kantin dengan bangku putih besar. Hanya aku dan dia yang menjajah bangku itu, ia berbicara seperti seorang anak perempuan yang menceritakan impiannya, menceritakan jalan yang akan dilaluinya, tapi bukan jalannya, melainkan jalan kita.

Impianku dan impiannya, dia perempuan pertama yang membuatku bercerita tentang mimpiku, hingga akhirnya aku membaca satu mimpi yang membuatku tersenyum tapi cukup bersedih di saat ini.

“udah, lupain aja :)“

Itu, salah satu kalimat terbaiknya, yang membuatku terduduk dan memandang bayangnya, hanya bayang!, karna sosoknya cukup rumit untuk dicari pada sebuah keramaian yang tertutup gelap senja.

Dia, biarlah aku tetap memuliakannya, memandangnya dari balik punggung orang – orang dihadapannya, menceritakannya di berbagai sekat, dan menjaganya dengan tidak menyentuhnya. dan memilikinya dengan mengejar mimpiku.

                                  Angga Aditya Atmadilaga, 22 April 2008

Dia dan Alam Bawah Sadarku

Sunday, April 13th, 2008

Bila aku berbicara penuh dengannya, berucap, bahkan sampai memeluknya..

Apakah ia tahu apa yang aku bicarakan ?

Apakah ia tahu kenapa aku memeluknya ?

Aku rasa tidak !!

Tapi, dia dalam mimpiku tahu itu,

Biarlah..

Setidaknya masih ada dia yang mengerti itu..

Karna mimpiku selalu ada di malamku..

                                         Angga Aditya Atmadilaga, 14 April  2008

RR Kushandari dan Waktu Kelahirannya

Sunday, April 13th, 2008

Aku mengenalnya,,

Tapi mengenalnya bukan berarti aku memahaminya..

Dia dan Waktu kelahirannya..

Mengingatkanku akan  “Cerita Dibalik Tumbuh”

Sebuah cerita yang diawali dengan gerak halus dari serabut akar yang menggeliat lepas mencari ruang hampa pada padatnya bumi pijakan, Diatasnya pula tertiup lemah garis alam, yang memanjat mencoba mendekati langit. Tumbuh karna bergerak, dan bergerak karna ia ingin tumbuh, mencapai apa yang dikatakan hati kecilnya.

Serabut akarnya semakin dalam tertanam, mengakar pasti terhadap apa yang ia percayai, Tubuh sebagai garis alam, bergerak lebih cepat seperti sebuah sketsa pemenuhan bidang gambar, bergerak lalu - lalang,  lembut, tapi tegas. Semakin tinggi ia tumbuh, semakin sering ia tersenyum, melihat sekelilingnya, memastikan tumbuhnya tak mengganggu alamnya, Begitu rendah hatinya dalam mengagumi hasratnya.

Ibunya berkata, tumbuh dan tumbuhlah engkau, sampai nanti kau mendengar dirimu berkata “ berhenti, cukup kita tumbuh sampai disini saja, berikan ruang tumbuh bagi mereka. “ .

Saat ini, tubuhnya belum berucap, tapi ia begitu anggun menyiapkan langkah perhentiannya, Waktu tumbuhnya masih begitu panjang, masih sangat cantik untuk dihentikan, dan terlalu sayang bila ia berhenti.

Beristirahatlah, bila lelah, tapi jangan berhenti karena itu, Menghentikan tumbuhmu maka kau akan menghentikan kepekaanmu, menghentikan kepedulianmu, menghentikan kepercayaanmu.

Tetaplah tumbuh atas apa yang kau percayai. Akhiri cerita ini atas kesepakatanmu dengan Tuhan, Alam dan Dirimu.

Dan bila boleh kuminta

Ajari aku cara memahamimu atas tumbuhnya dirimu…

                                        Angga Aditya Atmadilaga, 12 April  2008

Aku dan Gie Atas Nama Kita

Sunday, April 13th, 2008

Hai Gie, selamat bergabung bersamaku,

Atau mungkin seharusnya engkau yang menyambutku,

Hebat ya…

Kita sama – sama keliru, memahami sebuah kecantikan.

Atau mungkin lebih tepat bila ku katakan “ kita tertipu ! “

Telak bagiku !!

Tapi, akhirnya kita menyadari itu,

Menyadari pembelajaran dari mereka,

Waktumu memang telah habis,

Tapi tidak bagiku..

Hanya kepercayaannya, yang semakin berkurang.

Karna ku tak berani menyebutnya “ Habis ! “

Kemarin!

Ia masih tersenyum, masih saja ia bisa mendekat,

Masih saja ia bisa menunduk lelah, dan masih saja ia bisa tak memaafkanku !

Apalagi yang harus kuteriakan !

Berteriak meminta waktu pun, tak terdengar bergema!

Hening diserap celah ruang

Bening tertutup rekatnya tenang

Memang itulah harga dari sebuah kepercayaan,

Harga dari sebuah kekeliruan, Harga mati yang mungkin berubah suri

Harga yang akan hidup kembali atas usaha Renkarnasi.

Linta Sangka ku pun tak digubrisnya sama sekali!

Edan ku pikir ! Tapi lucu Kurasa!

Ini adalah awal dari permainan dalam sebuah Novel Kehidupanku,

Dan merupakan Akhir dari cerita cerita pendekku.

                                                  Angga Aditya Atmadilaga, 12  April 2008