Cinta atau Benci
Sunday, April 27th, 2008Aku bosan mendengar ceritanya, mengenai perjalanannya membakar kota ini, berseru – seru “ Bakar! Bakar! Bakar!”, Seusai itu ia menyanyanyikan lagu kebangsaannya, ia dan satu pakaiannya, hanya itu hartanya saat itu, tak ada yang bisa ia bawa. Hanya semangat untuk mengajak orang – orang membakar segala yang mereka miliki.
Hampir tiap malam ia membangunkanku, disiapkannya segelas kopi pahit untukku, dikecilkannya bunyi radio, ia redupkan lampu kamar, hanya lampu meja yang sengaja ia terangkan, seperti suasana interogasi. Sepiring singkong goreng ia letakan dihadapanku, agar aku tak punya alasan untuk pergi karna lapar.
Memang, selalu ada yang baru pada setiap ceritanya, meski ia mengusung tema yang sama, Aku merasa lebih tua darinya,karna ia lebih bersemangat bercerita dibanding aku, Agak malu juga aku karna itu, tapi sudahlah pemikiranku masih mencerminkan bahwa aku masih muda.
Aku bisa saja menolaknya untuk menceritakan apa yang menyemangatinya, tapi aku menghargai rasa cintanya, atau mungkin benci ! tapi kuyakin itu bukan hal biasa. Rasa itulah yang akhirnya membuat ia tetap memuliakan apa yang dirasanya, seperi diriku saat aku memuliakan perempuanku.
Angga Aditya Atmadilaga, 25 April 2008