Aku menyebutnya Ghaniza, ia mengalami kesulitan untuk bertemu Ayahnya, Ayah yang selalu pergi sebelum Ghaniza sempat mengucapkan selamat datang pada hari barunya, Ghaniza menyenangkan, sekaligus menyebalkan. Ia tahu cara memerintah secara lembut, atau mungkin, ada kebodohan pada dia yang diperintahnya. Merengek untuk keinginannya, dan berlari untuk ketakutannya. Dirinya tumbuh dengan mantel rasa nyaman, membuat kepekaannya bersembunyi di balik sakunya, meski tak cukup dalam, kepekaan itu mungkin akan hilang, karna pencuri – pencuri kecil selalu mengikutinya.
Ghaniza, ialah ratu dalam hidupnya, ia dan singgasananya. Mencoba menjajahi dimanapun ia mau, menyenggol kepercayaan, hingga terjatuh, dan berserakan. Sayang sekali, aku memandangnya sebagai seorang ratu yang akan segera membatu, Sulit bergerak atas tindaknya. Dia seorang wanita sombong yang menarik, Seorang wanita yang berpura pura menjadi perempuan karna tuntutan hasratnya, Ia sungguh menyebalkan !!
Aku menyebut.. “ Hali “,
Hali Wastira lebih lengkapnya.
Ia tahu arti hidupnya, mungkin karna langkah panjangnya. Mantel yang dipakainya seharusnya bukan mantel yang ia pakai saat ini, ia seharusnya mengenakan mantel yang mencitrakan keanggunannya, kekayaan dalam tindaknya, Ia dan tiga pengikutnya.
Terkadang ia bercerita, atas apa yang menyakiti dirinya, aku pernah melihatnya menangis, tapi ia tak pernah diam, selalu memuliakan para pengikutnya., Aku yakin pengikutnya akan mencarinya, meskipun dengan takdir “ Mereka lahir, tanpa tersentuh Hali Wastira “.
Ia perempuan terbaik dalam pandangku, tapi jangan tanya apa aku mencintainya ?
Ghaniza – Hali Wastira
Membuatku ingin berontak pada kepercayaan mengenai kelahiran..
Dari Sagitarius hingga Aquarius..
Ghaniza – Hali Wastira
Tanyakan pada orang tua mereka..
Waktu, dimana mereka lahir..
Akan terdengar 1 jawaban..
“ Mereka lahir di hari kemarin, Hari kelahiran Sang Raja Hutan, 12 “
Angga Aditya Atmadilaga, 8 Mei 2008