Bakul Semprul
Friday, June 13th, 2008“ Bakul Semprul !! “ , teriakan seorang perawan tua menjadi pengganti kokok ayam yang biasanya membangunkan kami. Sedikit membuka jendela, dan mengintip halaman luar, aku melihat perawan tua itu melempar cukilan nasi kearah anaknya, anak angkat yang ia ambil dari hasil pernikahan kekasih lamanya dengan adik tirinya.
Ia mencaci maki, berteriak membuka aib anaknya, diusirnya anak tersebut.
Anak itu lari, dengan membawa dua ayam peliharaannya. Aku tidak mau ambil pusing, segera aku masuki kamar kakakku, mengambil beberapa uang dari dompet yang ia simpan di lapis baju pada tumpukan terbawah, dan mulai membeli susu untuk sarapan nanti. Segera aku menuju Istal, mengambil kudaku.
Kunamai Kacaraksa untuk kudaku, Kuda yang kudapat setelah menjual tiga pedatiku. Aku selalu bercerita mengenai hidupku pada kudaku, karna kupercaya bahwa kudaku merupakan hasil Reinkarnasi dari raja di masa lalu, ia yang bijaksana dan juga seorang ksatria di masanya. Saat aku tertidurpun, Kacaraksa tau kemanan ia harus menetapkan tujuannya.
Perjalananku hampir sampai, aku harus segera mengambil beberapa wadah susu untuk kakakku, ia selalu beranggapan bahwa susu yang kuberi merupakan hak penuhnya, hak yang terambil karna aku menggantikannya untuk disusui ibuku sebelum ia puas menyusu di umurnya itu. Pantas saja ia sering menggigit ibu jari di waktu senggangnya.
“ Eh, sini, sini ! “ , perawan tua itu menyambutku.
“ Mana kakakmu ? “, tanyanya.
“ Nanti kubangunkan ia “ , aku menjawabnya dengan sedikit tersenyum. Aku takut menatap wajahnya, takut aku mulai menyukainya. Aku bangunkan saja kakakku, terlihat ia sedang menyetrika batik kesayangannya.
“ Kak, dicari tuh ! “, aku menyampaikan pesan sang perawan tua itu.
“ ya, mana susuku “, ia menanggapinya dengan malas, lalu kuberikannya susu kambing itu, ia menuangkannya pada cawan tembikar yang ia dapatkan dari isterinya. Sambil meminumnya ia mendatangi perawan tua itu.
Kakaku menatap wajahnya sambil membetulkan kancing pakaiannya.
“ Coba kau ajari anakmu itu bersikap, tak tau sopan santunkah ia ? “, sambil bertolak pinggang, perawan tua itu menanyai kakakku.
“ Sikap ia baik, kau saja yang telalu kasar mengurusnya, kau usir ia dengan dua ayamnya itu !! “ kakakku, mengeluarkan sebatang rokok dan berjemur menghangatkan tubuhnya di atas kursi rotan buatanku.
Angga Aditya Atmadilaga, 11 Juni 2008