Goresan Lingkar
Ia menjatuhkan sebuah gundu, yang didapatkannya dengan mengalahkan temannya si Iman tadi pagi. Gundu itu terjatuh dari genggamannya, dan mengenai atap mobil yang dipamerkan di bawahnya. Ia ada di lantai tiga saat itu, menemani si Ora menghabiskan waktu dan uang lebarannya. Ora pelit tidak berbagi, ia bermain Game sendiri saja, pantas kalau akhirnya anak itu hanya melamun melihat lihat mobil dari tempat pijaknya yang tinggi itu..
Lamunan itu yang membuat gengamannya lemah, gundu itu bergelinding menuruni telapak tangannya, terjatuh tanpa disadarinya, hingga akhirnya suara jatuhnya mengagetkannya, menyadarinya bahwa gundunya telah menggores atap mobil dibawahnya.
Baru kali ini ia merasa diperhatikan, orang – orang dibawahnya bagai rakyat yang tertegun akan sosok Presiden pujaannya, Mereka melihatnya !!!
Ia berlari, meninggalkan si Ora yang menangis karna coin terakhirnya tersangkut di mesin game. Ia tahu ia bukanlah sosok presiden yang dipuja, jadi bukan karna itu mereka melihatnya, Ia lari menuruni escalator, melawan arah menuju lantai dasar, sandal jepitnya terlepas, ia tetap saja lari, menangis, memanggil – manggil “ Ibu – Ibu “.
Aneh, pernah ia dipukuli, karna tak punya uang untuk diserahkan pada preman – preman kecil seusianya yang memalaknya, Ia tak menangis, hanya bersumpah sumpah saja kalau ia memang tak punya uang, preman preman cilik itu percaya, setelah Ia ditelanjangi. Ia tidak marah ! Tidak malu juga ! ia hanya tertawa, lalu menuju kali dan membasahi tubuhnya, telah lama ia tidak mandi rupanya.
Tapi kali ini, Ia menangis, memanggil – manggil kata “ Ibu”, padahal seumur hidupnya ia tak tahu seperti apa rupa ibunya, Hanya Kakak perempuannya yang mengurusnya, membantu membuat alat musik tutup botol untuk mengamen mengisi hari - harinya.
Kupikir ia akan selamat, toh tak ada yang mengejar dirinya. Ia bisa berlari kemanapun. Bebas lah, mau ke gorong – gorong, bersembunyi di lapak pasar, atau menenggelamkan dirinya di sumur belakang rumahnya.
Ternyata ia memilih rumahnya, mengeluarkan semua isi kardusnya, mengambil kantong kain yang terselip di antara bajunya, kantong yang dibuat kakaknya dari kain karung terigu yang didapatkannya dari pasar induk tempak kakaknya mencari sayuran yang tercecer di sepanjang jalanan pasar.
Ia kembali lagi, dengan membawa kantong itu, menuju tempat dimana gundunya terjatuh. Menggenggam erat kantongnya, dan menyerahkannya pada penjaga pameran mobil tersebut, sambil menangis ia menyerahkan semua gundunya, berharap bisa menggantikan goresan di atap mobil hitam tersebut.
Angga Aditya atmadilaga. 31 juli 2008