Sang Pelari

Aku baru saja mendengar cerita cerita mereka yang tak bisa beristirahat di malam hari, mereka harus terus berjalan. Berhenti, duduk atau mungkin tertidur, kan membuatnya dibuang dari kota ini, ditangkap dan dilepas di kebun karet; jauh dari Kota ini. Lalu bagaimana setelahnya ?

Kalau mau, mereka harus berjalan kembali ke kota ini. 2 Hari kira – kira mereka baru sampai kembali.

 

Aku memasang telingaku, menyiapkan kepekaan dan kesadaranku untuk menguping obrolan mereka. Saat itu hujan, kami berteduh di salah satu gedung, di selasar pintu samping kami melindungi diri. Vespaku kuparkirkan saja di luar pagar, aku memanjat masuk, lagi pula siapa juga yang mau curi vespa ??

 

Mereka menceritakan Mbah Liem, perempuan tua yang tertangkap, dan kabarnya, ia dilepaskan di daerah Kartaruba, Takdir sepertinya, disana ia dinikahi Juragan Tempe, Percaya atau tidak, Mbah Liem dianggap bawa hoki, Juragan tempe itu begitu tertarik dengan hidung Mbah liem, besar, dan bulat. Langsung saja dinikahi, bertambah pula lah cabang pabriknya.

 

“ Edan “ kata mereka,

Karna hidung jadi makmur,,

Padahal, setahu mereka, Mbah Liem tidak pernah mencintai hidungnya, Mbah Liem merasa hidungnya lah yang menyebabkan mantan suaminya lebih mencintai Isteri keduanya, dia lebih mancung !!

 

Ada keinginan nakal dari mereka,

Ingin mengubah nasib..

Tanpa biaya transportasi, tanpa lelah,

Tinggal tertidur saja, nanti mereka dijemput untuk ditangkap !

Tinggal minta saja mereka dilepaskan di Kartaruba.

Toh hidung mereka besar dan bulat juga.

 

                                                              

                                     Angga Aditya Atmadilaga, 28 September 2008

Leave a Reply