Siklus
Aku tidak menyebutnya Bapak supir, ia seumuran denganku, terlihat jelas dari perawakannya, ia seorang manusia timur. Aku ingat waktu pertama kali aku mengenalnya, dari perkelahiannya dengan pemuda – pemudi tangguh daerah perempatan.
Perutnya saat itu terlihat gemuk, banyak diisi kaleng kosong di balik bajunya, Kaleng yang ternyata melindunginya dari tusukan pisau berkarat sang pemuda. Ia babak belur, bibir atasnya membesar, menghalangi lubang salah satu hidungnya, sangat tersiksa katanya, untuk makan atau menghirup lancar udara gratis dari
awai pabrik, Selalu ia mangkal di gerbang depan pabrik tekstil terbesar di kotanya itu. Menunggu para wanita – wanita itu memenuhi ruang di mobil angkutannya, berharap sTuhannya.
Aku lebih dekat dengannya saat ia menjadi supir angkutan umum, meneruskan pengabdian ayahnya, Rute perjalanannya cukup menarik, di malam hari ia biasa menikmati memandang bencong – bencong bertubuh kekar yang melawan dingin di depan bioskop tua. Mereka menanggalkan pakaiannya satu persatu seiring datangnya fajar, setidaknya berharap untuk dilirik meski tidak disewa. Dan di pagi hari, ia begitu semangat mengantarkan tunas bangsa yang ia harapkan penuh bisa menjadi tokoh Negara, yang pada akhirnya mengangkatnya menjadi supir pribadi mereka, Ia anggap hal itu sebagai pengabdian untuk Negaranya.
Ia selalu rapi di waktu sore, aroma tubuhnya harum minyak kayu putih, rambutnya ia sisir tangan; ditarik kearah belakang kepalanya, tak mungkin terlihat klimis, tak ada minyak rambut yang dioleskannya. Waktu sore, waktu keluarnya pegalah satu dari mereka mengagumi caranya menyetir, dan memperlakukan mereka.
Adakah yang meliriknya ? ya, untuk mendapatkan tumpangan gratis, tanpa bayar duit, cukup tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Ia tak pernah merasa dirugikan, katanya senyuman mereka lebih berharga dari tinggi tumpukan logam receh setorannya. Tapi itu berlaku untuk wanita, Pria yang tersenyum tetap saja harus merogoh bayaran dari sakunya.
Kemarin ia ingin berhenti, ia ingin merasakan menjadi penumpang,
“ Aku ingin tertidur dalam perjalananku “ , katanya
Aku tak bisa mangabulkan permintaannya, tak bisa aku menyetir mobil, saat ini aku hanya mendampinginya saja, di mobil ini menuju tempat tidur terakhirnya.
Suara sirinenya, membuat bencong – bencong itu berlari,, Salah menduga mereka …
Angga Aditya Atmadilaga, 26 September 2008