Teman Kacang
July 9th, 2008 by anggaadityaatmadilagaSikapnya rawan atas payungan segumpal awan.
Ia Datang meminta Perawan !
Dasar Kacang !!
Hanya bisa mengatakan kalimat sayang!!
Pantaslah, kau, dia tendang!!
Angga Aditya Atmadilaga, 6 Juli 2008
Sikapnya rawan atas payungan segumpal awan.
Ia Datang meminta Perawan !
Dasar Kacang !!
Hanya bisa mengatakan kalimat sayang!!
Pantaslah, kau, dia tendang!!
Angga Aditya Atmadilaga, 6 Juli 2008
Darrri Shukan
1. Dia memberimu sebuah titik..
Ciptakan garis.. munculkan bidang,.
Ceriakan dengan warna..
Atau kau lebih memilih eksplorasi hitam - abu.. ?
2. Lihat, ada rambut !!
Ia tumbuh panjang,
Mungkin sebentar lagi
Ia menutupi setengah kepalamu,
Dan mungkin menutupi setengah punggungmu.
Tak apa..
Itu pertanda..
Kau mengikuti..
Waktu hidupmu..
3. Mereka berkata,,
Bahwa mereka menyayangimu..
Melebihi..
Waktu sebelumnya..
Tapi kau belum menyadari,,,
Hanya menikmati
Masa - masa tanpa lelah..
4. Gigimu sakit ?
Mungkin terlalu banyak rasa manis yang menempel
Bagikan sedikit manis itu,,
Ada mereka..
Yang selalu menikmati rasa pahit..
Mereka pasti akan ingat namamu..
Selalu..
5. Ini bukan akhir
Dari masa tanpa lelah,,
Masih banyak waktu..
Untuk melompat - lompat,,
Dan menyadari dirimu
ialah kelinci kecil..
Yang menggali..
lubang - lubang keceriaan
6. Dari langit..
Terlihat gelap pada hijau,,
Itu lubang yang kau buat !!!
Jangan lupakan
Orang - orang terdekatmu,
Ajak mereka..
Untuk menikmati
Lubang keceriaanmu
7. Masih ingat
makanan pertamamu ?
Masih bisa merasakannya ?
Kalaupun tidak,
Saat ini kau harus berhati - hati..
Tidak semua makanan tersenyum padamu,,
Meskipun..
Kau telah tersenyum padanya..
8. Kamu mulai tahu..
Cara menakuti mereka..
Membuat topengmu sendiri,,
Memakainya..
Dan mulai memainkan raut wajahmu..
Mereka tidak takut sebenarnya..
Mereka gemetar, untuk tawamu..
9. Bahkan genangan air pun
Ingin mengimajinasikannya…
10. Karna kamulah,
Mereka masih bisa..
Merasakan warna..
11. Gunung mencoba menyentuh langit
Apa kau ingin mencobanya ?
12. Mencoba melihat
Hal - hal kecil dalam perjalananmu.
Mungkin…
Kau akan memahami, arti hidupmu…
13. Perjalananmu akan dimulai..
Rancang tubuh perjalananmu,,
Ia akan banyak membantu langkahmu..
14.
Ada kehangatan yang Cassatt lukiskan..
Dan ada kehangatan yang kau rasakan,,,
Hanya milikmu dan miliknya..
15. Banyak pertanyaan dari dirimu untuk tubuhmu..
Jawab, atau pura - pura tidak mendengar ?
16. Aku pembawa mimpi burukmu,,,
Hanya sekedar mimpi.. Tak lebih dari itu..
17. Bertempur melelahkan,
Tapi selalu ada bayaran untuk itu semua..
Tersenyumlah
Angga Aditya Atmadilaga, 7 Mei 2008
Disuatu pagi yang menarik
Sang raja hutan berjalan mengitari wilayah kekuasaannya
Lidahnya ia julurkan, sehingga lalat bisa hinggap dan menjilatinya..
Ekornya, menyapu jalan dibelakangnya
Meninggalkan jejak kedalaman dan goresan lembut di atas lajunya.
Ia menuju telaga dangkal,
Semuanya memberi jalan bagi jalurnya.
Saling bertatap mata, mereka !!
Sepasang mata yang menghadapi tubuh – tubuh yang mengelilinginya.
“ Ada pertanyaan untuk hari ini ? “, Sang Raja membuka kalimatnya.
Ribuan sosok memberi bahasa tubuhnya, meminta Sang Raja menunjuknya dan mempersilahkannya bertanya.
Sang raja memilih, ia yang terbelakang. Jauh dari kumpulan yang melingkarinya.
Sehelai daun kuning di atas sebuah batu berwarna hitam pekat, dengan setetes air biru yang tergenang di permukaan daun itu.
“ Maapkan kelancangan Hamba paduka, Hamba ingin menanyakan arti dari mimpi hamba semalam, Hamba bermimpi tentang Bumi yang menyudahi masa baktinya, Menelan apa yang disakitinya, dan memuntahkan mereka yang telah meninggalkannya. Bumi tidak murka Paduka, hanya sedikit jenuh, katanya. Bumi tidak pernah sakit, dan tidak pernah mencoba untuk sakit, Bumi akan mati tanpa Sakit, itu yang dikatakan Bumi. Hamba mohon paduka mempertimbangkan mimpi hamba “
………………………………..
……………………………….
……………………………….
Angga Aditya Atmadilaga, 30 Juni 2008
Hai Pramestelia, mungkin seperti itu pengejaan hurufmu ??
Semoga aku tidak keliru lagi..
Aku menyiramkan secangkir kopi panas, pada wajah kakek – kakek di depanku.
Jenggotnya terbakar, hampir saja merambat ke kumisnya..
Tamatlah ia, bila semua terbakar.
Kembali terlihat muda, soalnya..
Aku meminta para pengukir peti mati harus segera menyelesaikan karyanya,
Banyak sekali para bocah yang mati berdiri.
Selesaikan !!
Sebelum mereka terjatuh !!
Dan aku menakuti mereka agar berlari melompati meja.
Tak kau lihatkah banyak rerumputan bersembunyi dibaliknya ??
Bahkan mereka tak bisa bergoyang dan ditanyai.
Ambillah udara kepercayaanmu
Dan kuceritakan kisah lainnya..
Lewat bisikan saja
Karna kau sahabat terlamaku
Angga Aditya Atmadilaga, 5 Juli 2008
Ada sperma yang keliru melalui alurnya..
Ia menuju hati saat ini..
Tidak bergerombol, hanya satu dari jutaan yang terlanjur menuju ovum.
Ia bergerak dengan bebasnya.
Menghampiri dan mencemari.
Yakin akan kehebatannya sebagai yang terbaik.
Ia mengetuk hati dengan halusnya.
Merubahnya menjadi sebuah wilayah hasrat tanpa karat
Sperma seorang pejuang veteran perang
Perebut Ruang Kemenangan.
Angga Aditya Atmadilaga, 30 Juni 2008
Ada satu malam..
Dimana kain pembalut kasurku tidak tegang seperti biasanya..
Saat itu aku menyadari.. Sulitnya kehilangan Ibuku..
Angga Aditya Atmadilaga, 30 Juni 2008
Seorang Ibu tidak boleh sakit,
Ingat itu Renggana – ku..
Angga Aditya Atmadilaga, 30 Juni 2008
Ada sayatan di dahinya,,
Atas torehan kuku-ku, untuk membuka pikirnya.
Dan ada lubang di lehernya,,
Sedalam jari telunjukku, untuk mengambil apa yang diucapkannya.
Tergambar lingkar kecil di dadanya
Bagi sasaran lesatan busurku.
Sayang, Ku tak bisa mengambil nyawa,,
Atas suatu rasa kecewa..
Akan pengambilan puluhan jiwa..
Angga Aditya Atmadilaga, 30 Juni 2008
Suamimu main hasrat dengan Wanita lain.
Apa itu kesalahan Kami ??
Jika ia mempunyai anak bukan dari Rahimmu.
Tetap itu kesalahan Kami ??
Siapa lelaki sombong, seperti perempuan yang kau maksud itu ??
Ayolah,
Dunia mulai jenuh dengan kehadiranmu !!
Kau lari tak terkejar .
Kau bicara tak terhenti..
Tak mungkin kami mati mendahuluimu.
Urusan kita belum selesai !!
Angga Aditya Atmadilaga, 30 Juni 2008
Syadza.. Syadza..
Jangan menangis di waktu ini.
Tangisanmu akan merusak rajutan Ibumu,
takkan terbayar lelahnya..
Rajutan itu untukmu juga,
dari sulaman impianmu yang masih diingatnya..
Kamu ingat putri yang diceritakan Ayahmu..
“ Putri yang tak pernah tertidur karena menunggu kekasihnya,
putri yang membiarkan dirinya Menunggu, Berharap, dan Bermimpi.
Ia tertidur, saat kecupan kekasihnya menjawab tingkah lakunya.“
“ Selamanya ia tertidur ? “ Entahlah.. Hanya kamu yang mengingatnya.
Maka janganlah menangis..
Atau kau akan kesulitan tuk mengingatnya..
Tangisanmu terlalu mahal untuk didengar sembarang orang.
Syadza.. Syadza..
Coba tanya Tuhanmu, tentang tangisan paling berisikmu.
Ia selalu mendengar dan mengingat…
Pastikan kau percaya itu.
Kemarin, aku bertemu Bunglon Pohon Jambu,
Ia ingin mengajakmu bersamanya,
Mengamati duniamu dengan warna pilihanmu.
Mempermainkan musuhmu dengan letakmu.
Mungkin seperti itulah seharusnya mereka Mengenalmu..
Angga Aditya Atmadilaga, 30 Juni 2008